Diarsipkan di bawah: Opini
UN SMA baru saja berlalu, setiap siswa berharap semua LULUS. Segala cara mereka tempuh, dari mulai persiapan melalui pemantapan, try out. praUN samapai dengan melacak latihan soal-soaldi internet. Situasi sekolah sibuk luar biasa. Para Tenaga pengajar tidak berhenti berpikir untuk mensukseskan anak didiknya, dari mulai penambahan materi, latihan soal-soal, penambahan jam belajar sampai dengan berpikir yang kadang2 diluar batas kemampuan manusia…. pokoknya yang penting anak2 harus terselamatkan …. pokoknya sibuk … sibuk … dan sibuuuuuuk.
Tapi yang tidak habis pikir, kenapa para pakar pendidikan khususnya di Indonesia hanya mengukur standar kelulusan siswa dari segi Intelegensi saja. Mengapa permasalahan Emosional dan Spiritual diabaikan. Padahal dalam pembentukan SDM anak didik kita tidak bisa menilai dari salah satu sisi saja, melainkan harus menilai dari keseluruhan secara utuh. Sebab seseorang yang dianggap baik INTELEGENSINYA, tetapi buruk pengendalian EMOSIONALNYA dan kurang dalam pengamalan SPIRITUALNYA akan tetap menjadi manusia yang GAGAL di dalam menempuh hidupnya.
Jadi sangat tidak adil apabila para pakar pendidikan memutuskan, apabila seorang siswa didik tidak berhasil memenuhi standar nilai di dalam UN lalu langsung divonis TIDAK LULUS didalam menempuh pendidikannya.
Bukankah manusia yang sempurna itu adalah mereka yang memiliki Intelegensi baik, Emosional baik dan Spiritual baik ???????????
Tolong renungkan demi untuk keselamatan bangsa di masa depan……..
Bukankah kita sebagai bangsa yang besar, kini sudah semakin kerdil ???????
Kita hanya bisa bangga dengan orang lain. Dan tidakkah kita akan belajar dengan kebanggaan sendiri ?
Lalu apa yang mesti kita banggakan dari Bangsa sendiri ?
Kita dibanjiri mobil dan motor, tapi sadarkah kita ? bahwa semua itu bukan produk anak bangsa.
Kita dibanjiri Kompoter dan Handpone, tapi apa kebanggaan kita ? karena semua bukan produk kita.
Lalu kapankah anak bangsa akan diberi kepercayaan untuk membangun bangsanya sendiri ?
Pendidikan di kita hanya makan teori…. jauh dari praktek yang sesungguhnya.
Pendidikan di kita hanya membangun calon-calon karyawan yang hidupnya ketergantungan.
Lalu kapankah pendidikan yang sebenarnya akan diterapkan ????????
Dilematis memang pendidikan dalam kenyataannya, tapi sampai kapanpun kita tidak akan berhasil, selama kita tidak menyadari bahwa pembentukan manusia seutuhnya dibangun oleh tiga unsur yang tidak bisa dipisah-pisahkan, yaitu;
1. Intelegensi
2. Emosional
3. Spiritual
Dan yang paling penting semua bukan teori, tapi praktek yang bisa dibuktikan.
Jadi tolong renungkan dengan kepala yang dingin dan hati yang lapang. Adilkah Standar Kelulusan hanya dievaluasi dari materi yang di-UN-kan ?
Lalu apa yang terjadi di lapangan sekarang ?
Saya mau jujur….. sejujur-jujurnya….. bahwa dengan adanya UN yang sekaligus menjadi Standar Kelulusan Siswa, ini tidak membuat pendidikan di kita menjadi lebih baik, bahkan semakin merusak ahlak dan moral pendidik……. Dan memang kenyataannya sekarang, masalah pendidikan Emosional dan Spiritual nampaknya sudah mulai dikesampingkan…… mengerikan ….. memalukan …
Diarsipkan di bawah: Opini
DUGAAN KECURANGAN UJIAN NASIONAL SMA DI KOTA PASURUAN
Oleh : Trian Ferianto
30-Apr-2007, 20:52:38 WIB – [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia – Ujian Nasional untuk tingkat SMP dan SMA sudah selesai digelar beberapa waktu lalu. Dengan berakhirnya periode ini berarti ketegangan para siswa sudah berkurang satu dan tinggal ketegangan menunggu pengumuman hasil ujian.
Berakhirnya masa itu juga berarti mulainya berbagai macam komentar-komentar masalah Ujian Nasional. Dugaan-dugaan kecurangan dan kebocoran nilai mulai bermunculan di beberapa daerah, termasuk di kota dan kabupaten Pasuruan. Dari beberapa sumber, peserta Ujian Nasional menceritakan banyak terjadi kecurangan.
Di salah satu SMA negeri di Pasuruan misalnya. Oknum pengawas Ujian yang notabene dari sekolah lain mencoba membantu peserta Ujian yang kesulitan mengerjakan soal-soal yang dihadapi. Waktu itu hari pertama Ujian Nasional yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika waktu mengerjakan soal menjelang habis. Si penjaga berkeliling dan melihat salah satu peserta belum selesai mengerjakan. Akhirnya si penjaga ini melihat pekerjaan peserta lain yang sudah selesai dan memberikan jawabannya kepada peserta yang kesulitan itu.
Di SMA Negeri 2 Pasuruan juga terdapat keganjilan yang ditemui ketika Ujian Nasional. Ketika hari kedua Ujian sekaligus mata pelajaran Matematika, salah satu peserta memperoleh sms kunci jawaban dari pihak yang tak dikenal saat waktu mengerjakan berlangsung. Peserta ini kemudian langsung membagikan kunci itu ke teman yang lain, juga melalui sms. Namun setelah di cek pasca ujian hari itu, ternyata kunci jawaban itu hanya benar kurang lebih 5 nomor. Sontak saja para siswa ada yang menangis karena menyesal dan ada juga yang menangis karena menganggap soal yang diberikan terlalu sulit untuk dikerjakan. Kebanyakan peserta yang menangis ini adalah siswa putri.
Sedangkan di SMA Negeri 3 Pasuruan, sebagian siswa mengaku memperoleh jawaban listening (mendengar) Bahasa Inggris dari salah satu oknum. Diduga cara yang digunakan si pelaku ini yaitu ikut mendengarkan ketika kaset rekaman ujian listening mulai dibunyikan. Bersamaan dengan para peserta mengerjakan, si oknum ini juga ikut mengerjakan. Dan setelah selesai, pelaku kemudian mendistribusikan kepada sebagian peserta ujian dengan cara yang tidak mau disebutkan.
Sebagian siswa dari SMA Negeri 3 Pasuruan ini juga mengeluhkan pengawasan yang terlalu ketat dari petugas penjaga ujian. Malahan ketika waktu mengejakan Bahasa Indonesia akan selesai, salah beberapa siswa ada yang baru mengerjakan kurang lebih 25 soal dari jumlah soal keseluruhan 50 butir. Setelah dimintai konfirmasi, sebagian peserta ini mengancam akan melakukan suatu tindakan pada yang mengawasi mereka ini jika nantinya banyak yang tidak lulus.
Beberapa kejadian tidak lumrah juga terjadi di SMA Negeri 3 Pasuruan. Menurut narasumber yang sempat dimintai cerita, salah satu lembar jawaban peserta ada yang terobek (tidak sengaja) karena saling tarik antara peserta dan pengawas. Selain itu juga ada lembar jawaban yang tercoret (tidak sengaja) berlebihan dan dikhawatirkan akan mengganggu pengoreksian dengan komputer nantinya. Hal ini juga terjadi karena ada aksi reaksi secara langsung antara peserta dan pengawas. Diduga peristiwa itu terjadi karena pengawas melihat ada tindakan curang yang dilakukan peserta sehingga dengan sigap melakukan tindakan penarikan lembar jawaban, meskipun setelah itu dikembalikan lagi. Sekedar Informasi, pengawas di SMA Negeri 3 ini berasal dari pengajar dari SMA Negeri 1 Pasuruan.
Sedangkan SMA negeri 4 merupakan sekolah negeri yang sepi informasi seperti itu. Namun berita yang beredar di kalangan peserta, diduga sms jawaban yang masuk ke SMA Negeri 2 berasal dari SMA Negeri 4 Pasuruan.
Sementara itu di sekolah swasta, sampai saat ini diterima informasi terjadi kecurangan penyebaran jawaban via sms di STM Dharma Wirawan Blandongan. Cara yang digunakan, salah satu peserta menceritakan temannya mendapat sms ketika ijin ke kamar kecil. SMS itu berasal dari guru pengajar yang saat itu tidak berada di sekolah mereka. Kemudian sms ini diteruskan dengan didistribusikan pada peserta yang lain.

